Ketika Bhutan Bersuara tentang Bali

Sore dingin di Thimphu, ibu kota Bhutan, aku duduk di sudut Museum Tekstil Nasional. Kain-kain tenun tangan berjejer indah, seolah berbisik tentang sejarah dan doa yang melekat di tiap helainya.
Tiba-tiba, seorang tua mendekat. Wajahnya teduh, matanya bagai menyimpan rahasia gunung. Ia berkata pelan, namun setiap kata menusuk jauh ke dalam hati:
" Nak, coba kamu renungkan. Bali punya desa tradisional bernama Tenganan. Kain geringsingnya luar biasa, sakral, dan budaya mereka tak jauh berbeda dengan apa yang kamu lihat di Bhutan ini.”
Aku terdiam. Lelaki itu melanjutkan, suaranya seakan datang dari ruang antara nyata dan gaib:
" Bali bukan hanya tanah, bukan hanya laut yang indah atau danau yang sunyi. Ia punya subak, ia punya harmoni yang membumi. Ingatlah… Balimu adalah sorga dunia. Dunia tanpa Bali tidak akan berdenyut, sebab Bali adalah pintu gerbangnya dunia.”
Angin museum berputar aneh, kain-kain tenun bergoyang seolah hidup. Saat aku menutup mata sejenak, tiba-tiba aku berada di sebuah bale banjar tua di Tenganan. Api dupa menyala, gamelan samar terdengar dari kejauhan.
Dari balik asap dupa, muncul sosok lelaki berjubah putih, berwajah Bali, dengan rambut perak terurai. Aku gemetar, tapi ia menatapku penuh kasih.
" Anak cucuku,” katanya lembut, “jangan lupa daratanmu. Geringsing bukan hanya kain, ia adalah doa yang menenun hidup, ia adalah perisai Bali. Jaga tanahmu, jaga danumu, jaga lautmu, jaga subakmu. Bila Bali hilang, dunia ikut sekarat.”
Aku berlutut, menahan air mata. Leluhur itu mendekat, menyentuh pundakku, dan aku merasakan aliran hangat menjalari tubuhku, seperti cahaya yang menyalakan tekad baru.
" Kembalilah. Bawalah pesan ini pada generasimu. Bali bukan hanya milik orang Bali, ia milik dunia. Tapi engkau, anak Nusantara, adalah penjaganya.”
Ketika aku menengadah, sosok itu perlahan memudar bersama bau harum dupa. Hanya gema suaranya yang tersisa:
“Rahayu… Rahayu… Rahayu…”
Aku kembali terhenyak di sudut museum Thimphu, keringat dingin bercucuran. Lelaki tua yang tadi berbicara telah lenyap entah kemana. Namun pesan itu terpatri kuat: cinta tanah air bukan sekadar kewajiban, melainkan titah suci leluhur.
Sejak hari itu aku berjanji, akan pulang membawa api suci itu untuk Bali, untuk Nusantara, untuk dunia.
What's Your Reaction?






